Dwikimedia
Sekedar Berbagi
Minggu, 01 Januari 2012
Tetaplah kita bersemangat. Lantaran semangat adalah api yang memberi kehangatan hidup. Kita membutuhkan saripati cahaya dari api semangat itu untuk menerangi jalan hidup....
Salam hangat dari kesayupan....
Selasa, 13 Desember 2011
Pidato Politik Ketua Umum DPP PDI Perjuangan: Berjuang Untuk Kesejahteraan Rakyat
Bung Karno menggambarkan dengan sangat baik melalui tulisannya di dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi halaman 589 tahun 1941.
Beliau menegaskan, “Penyakit kapitalisme adalah krisis. Penyakit krisis ini selalu menyerang tubuh kapitalisme. Maka kemampuan kapitalisme menyembuhkan dirinya dari pukulan krisis, menjadi ukuran, apakah ia cukup mempunyai tenaga atau tidak. Di dalam kapitalisme yang sehat, atau naik, maka untuk sementara waktu, ia mampu mengalahkan krisis itu. Namun bagi kapitalisme yang telah menurun, maka krisis yang terjadi, bagaikan orang tua yang terserang penyakit hebat. Deritanya sangat pedih, dan lama sekali. Memang krisis selalu mengintai kapitalisme sepanjang perjalananya. Dalam krisis yang sehat pun, datanglah kontraksi. Namun adanya krisis adalah satu azab yang maha berat, dan padanya krisis itu cepat sekali diikuti oleh krisis yang baru. Krisis ini menggelapkan sama sekali udaranya kapitalisme, bukan saja di Amerika dan Eropa, tetapi sampai ke tiap-tiap lobang di muka bumi”.
70 tahun sudah gagasan Bung Karno melewati ujian sejarah. Selama bertahun-tahun orde baru, pemikiran Bung Karno bahkan disudutkan ke pojok sejarah, diberlakukan sebagai sampah atau dokumen yang harus dimusnahkan.
Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa ta’ala atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga pada hari ini, kita dapat berkumpul di Kota Bandung ini. Di Kota Bandung inilah perlawanan rakyat dilakukan. Kota dibumi-hanguskan oleh lebih dari 200.000 rakyat, bersama Tentara Rakyat Indonesia pada tanggal 24 Maret 1946, guna mencegah Sekutu dan NICA Belanda, membangun markas strategis militernya. Di kota bersejarah inilah Bung Karno memoles Nasionalisme Indonesia, hingga mencapai bentuk sempurnanya.
Di sinilah internasionalisme atau kemanusiaan mendapatkan momentum puncaknya melalui gerakan solidaritas bangsa-bangsa terjajah di bawah kepimpinan Indonesia. Hal ini diwujudkan melalui Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 yang fenomenal itu.
Read more at baitulmuslimin.wordpress.comSaudara-saudara,
Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa ta’ala atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga pada hari ini, kita dapat berkumpul di Kota Bandung ini. Di Kota Bandung inilah perlawanan rakyat dilakukan. Kota dibumi-hanguskan oleh lebih dari 200.000 rakyat, bersama Tentara Rakyat Indonesia pada tanggal 24 Maret 1946, guna mencegah Sekutu dan NICA Belanda, membangun markas strategis militernya. Di kota bersejarah inilah Bung Karno memoles Nasionalisme Indonesia, hingga mencapai bentuk sempurnanya.
Pidato Politik Ketua Umum DPP PDI Perjuangan: Berjuang Untuk Kesejahteraan Rakyat
Bung Karno menggambarkan dengan sangat baik melalui tulisannya di dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi halaman 589 tahun 1941.
Beliau menegaskan, “Penyakit kapitalisme adalah krisis. Penyakit krisis ini selalu menyerang tubuh kapitalisme. Maka kemampuan kapitalisme menyembuhkan dirinya dari pukulan krisis, menjadi ukuran, apakah ia cukup mempunyai tenaga atau tidak. Di dalam kapitalisme yang sehat, atau naik, maka untuk sementara waktu, ia mampu mengalahkan krisis itu. Namun bagi kapitalisme yang telah menurun, maka krisis yang terjadi, bagaikan orang tua yang terserang penyakit hebat. Deritanya sangat pedih, dan lama sekali. Memang krisis selalu mengintai kapitalisme sepanjang perjalananya. Dalam krisis yang sehat pun, datanglah kontraksi. Namun adanya krisis adalah satu azab yang maha berat, dan padanya krisis itu cepat sekali diikuti oleh krisis yang baru. Krisis ini menggelapkan sama sekali udaranya kapitalisme, bukan saja di Amerika dan Eropa, tetapi sampai ke tiap-tiap lobang di muka bumi”.
70 tahun sudah gagasan Bung Karno melewati ujian sejarah. Selama bertahun-tahun orde baru, pemikiran Bung Karno bahkan disudutkan ke pojok sejarah, diberlakukan sebagai sampah atau dokumen yang harus dimusnahkan.
Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa ta’ala atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga pada hari ini, kita dapat berkumpul di Kota Bandung ini. Di Kota Bandung inilah perlawanan rakyat dilakukan. Kota dibumi-hanguskan oleh lebih dari 200.000 rakyat, bersama Tentara Rakyat Indonesia pada tanggal 24 Maret 1946, guna mencegah Sekutu dan NICA Belanda, membangun markas strategis militernya. Di kota bersejarah inilah Bung Karno memoles Nasionalisme Indonesia, hingga mencapai bentuk sempurnanya.
Di sinilah internasionalisme atau kemanusiaan mendapatkan momentum puncaknya melalui gerakan solidaritas bangsa-bangsa terjajah di bawah kepimpinan Indonesia. Hal ini diwujudkan melalui Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 yang fenomenal itu.
Read more at baitulmuslimin.wordpress.comSaudara-saudara,
Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa ta’ala atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga pada hari ini, kita dapat berkumpul di Kota Bandung ini. Di Kota Bandung inilah perlawanan rakyat dilakukan. Kota dibumi-hanguskan oleh lebih dari 200.000 rakyat, bersama Tentara Rakyat Indonesia pada tanggal 24 Maret 1946, guna mencegah Sekutu dan NICA Belanda, membangun markas strategis militernya. Di kota bersejarah inilah Bung Karno memoles Nasionalisme Indonesia, hingga mencapai bentuk sempurnanya.
Selasa, 06 Desember 2011
| Reaksi: |
Rabu, 23 November 2011
Senin, 21 November 2011
| Reaksi: |